• PIDATO KEMENHUT

  • Peran Sektor Kehutanan Dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional

    Disampaikan oleh : MENTERI KEHUTANAN
    PADA ACARA KULIAH UMUM DI UNIVERSITAS LAMPUNG
    Bandar Lampung, 22 Maret 2012

    I. Pendahuluan
    Hutan pada hakekatnya mempunyai karakteristik multi fungsi yang bersifat holistik dan jangka panjang. Oleh sebab itu, keberadaan hutan senantiasa berkaitan erat dengan isu-isu strategis yang terjadi pada saat ini, yaitu perubahan iklim dan pemanasan global, ketahanan pangan, energi, dan air, pertumbuhan penduduk dan kemiskinan, serta daya dukung bagi pertumbuhan berkelanjutan. Salah satu bentuk aktualisasi karakteristik multi fungsi hutan adalah perannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pada saat ini terdapat sekitar 19.410 desa yang berada di sekitar hutan dengan penduduk sekitar 48,8 juta orang yang hidup dan kehidupannya berkaitan dengan hutan.

    Bagi petani, hutan sangatlah penting artinya, karena merupakan kawasan pengatur tata air dan kesuburan tanah, penyangga kehidupan yang paling esensial, sumber kehidupan, sumber plasma nutfah, dan tempat berlindung dari ancaman kehidupan. Dalam jangka panjang hutan dapat berfungsi sebagai penyangga sistem kehidupan (life supporting system) serta sebagai kontributor penyedia pangan (forest for food poduction). Oleh sebab itu, pembangunan kehutanan selalu memperhatikan dan bertujuan mewujudkan pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management/SFM) karena fungsinya yang sangat penting dalam mendukung kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

    Oleh karena itu pada kepemimpinan saya Kementerian Kehutanan telah menetapkan 6 Kebijakan Prioritas, yaitu :

    1. Pemantapan kawasan hutan.

    2. Rehabilitasi hutan dan peningkatan daya dukung daerah aliran sungai (DAS).

    3. Pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan.

    4. Konservasi keanekaragaman hayati.

    5. Revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan.

    6. Pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

    Pada kesempatan ini saya ingin menekankan bahwa kebijakan prioritas tersebut tidak harus dilihat secara berurutan namun dibutuhkan keterpaduan antara satu dengan lainnya agar terjadi sinergitas dan koordinasi yang mantap sehingga implementasinya dapat lebif efektif dan efisien.

    II. Fungsi Strategis Hutan.
    Kontribusi kehutanan yang terbesar dalam kehidupan ini adalah keberadaan hutan yang berfungsi sebagai penyangga sistem kehidupan. Fungsi hutan tersebut diwujudkan dalam bentuk kemampuan hutan untuk mengatur tata air, iklim mikro, penyerapan karbon, dan sebagai sumber plasma nutfah.

    Terkait fungsi hutan sebagai pengatur tata air, maka kebutuhan air akan terganggu apabila keberadaan hutan mengalami kerusakan. Gangguan kebutuhan air tersebut saat ini sudah mulai terasa, yaitu dengan terjadinya kerusakan fungsi hidro-orologis hutan oleh berbagai sebab, yang membuat cadangan air tanah untuk mendukung sistem irigasi semakin berkurang.

    Kerusakan hutan yang terjadi saat ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, yang mengancam keberlanjutan pertanian pangan. Kekeringan yang terjadi pada tahun 2008 telah menyebabkan lebih dari 20 ribu ha areal tanaman padi yang tersebar di berbagai kabupaten, baik di Jawa maupun Sumatera mengalami puso. Jika kondisi tersebut tidak kita tangani, maka tujuan ketahanan pangan nasonal tidak akan tercapai dengan optimal. Oleh karena itu peran hutan sebagai pengatur tata air sangat penting artinya dalam pengendalian fungsi hidro-orologis, yaitu sebagai penyerap, penyimpan, penghasil dan pendistribusi air.

    Fungsi hutan yang lain dan sangat vital adalah pengatur iklim mikro maupun makro. Kerusakan hutan yang terjadi selama ini diyakini telah menyebabkan perubahan iklim secara global. Pengaruh perubahan iklim tersebut sangat terasa dari setiap sisi kehidupan, bahkan perubahan iklim yang terasa sejak tahun 2010 dan 2011 sudah mengganggu musim tanam bagi petani di Indonesia. Anomali cuaca berupa curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim sepanjang tahun 2010 membuat banyak tanaman padi mengalami kerusakan, dan gagal panen.

    Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hutan sebagai tempat berdirinya berbagai komunitas manusia mempunyai fungsi yang sangat strategis dalam mendukung akses pangan menuju ketahanan pangan nasional.

    III. Potensi Pangan Dari Hutan
    Selama ini hutan telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mendukung penyediaan pangan (food production) bagi masyarakat. Melalui kekayaan alam hayatinya, hutan menyimpan potensi plasma nutfah flora dan fauna yang mampu mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan obat-obatan, karena dari hutan dapat memproduksi sumber pangan berkualitas. Selain tumbuhan sumber karbohidrat yang berkembang dari bawah sampai ke atas lahan, hutan juga menyimpan keragaman sumber pangan protein, lemak, vitamin dan mineral yang berasal dari tumbuhan dan satwa.

    Kontribusi sektor kehutanan dalam penyediaan pangan secara tradisional telah berkembang di Indonesia. Kita mengenal berbagai produk dari hutan yang sangat besar manfaatnya bagi penyediaan pangan masyarakat, seperti umbut rotan, umbi-umbian, satwa, madu, buah-buahan, dll. Bahkan sebagian produk hutan tersebut sudah menjadi komoditas ekspor, seperti porang, yang saat ini semakin banyak dikembangkan. Kita juga banyak mengenal obat-obatan dari hutan, seperti pasak bumi, yang bermanfaat untuk menjaga stamina sehingga tetap bugar. Berbagai macam produk hutan tersebut merupakan kontribusi langsung dari hutan terhadap penyediaan pangan dan kesehatan yang nilainya cukup besar.

    Di samping kontribusi yang bersifat langsung, pemanfaatan hutan dalam penyediaan pangan juga dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan memanfaatkan kawasan hutan untuk memproduksi sumber pangan. Pemanfaatan kawasan hutan, khususnya pada hutan produksi, zona pemanfaatan taman nasional, atau hutan lindung, sudah banyak dilakukan bersama masyarakat untuk pengembangan komoditas pangan, obat-obatan, dan energi. Kegiatan agroforestry, silvofishery, dan silvopastura sudah banyak dikembangkan pada berbagai wilayah dan secara nyata sudah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam penyediaan pangan nasional.

    Sejak tahun 1998 hingga tahun 2010, luas kontribusi pangan dari sektor kehutanan mencapai lebih dari 16,43 juta hektar, dengan luas rata-rata mencapai 6,341 juta hektar/tahun dalam bentuk kegiatan tumpangsari pada kegiatan rehabilitasi hutan, pembuatan hutan tanaman, hutan rakyat, dll. Tingkat produksi pangan yang telah dihasilkan mencapai lebih dari 9 juta ton atau setara pangan per tahun dari jenis padi, jagung, kedelai, dll. Walaupun produksi pangan dari hutan cukup besar, namun belum tercatat dalam data statistik nasional.

    IV. Kontribusi Ekonomi Dari Hutan
    Dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat di dalam dan di sekitar hutan, Kementerian Kehutanan telah mencadangkan areal pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 657.117,73 Ha yang tersebar pada 104 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, dan telah diterbitkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK-HTR) oleh para Bupati seluas 157.254,91 Ha pada 37 Kabupaten, dan sebanyak 67 Kabupaten yang telah mendapat pencadangan belum diterbitkan IUPHHK.

    Untuk Propinsi Lampung, telah diterbitkan pencadangan areal HTR di Kab. Lampung Barat seluas 24.835 Ha, atau setelah diverifikasi oleh BPKH Palembang luas netto menjadi sekitar 22.772 Ha dan telah diterbitkan IUPHHK HTR kepada 5 Koperasi di Lampung Barat seluas 14.709 Ha, dimana Menteri Kehutanan memberikan catatan khusus ada koperasi yang perlu dinilai kembali apakah memang berhak atau tidak penerbitan ijin HTR tersebut. Agar ijin tersebut tidak disalahgunakan kepada yang tidak berhak, maka Menteri Kehutanan menerbitkan Permenhut No.P 55 Tahun 2011 bahwa izin HTR untuk koperasi dibatasi maksimal 700 Ha, agar lebih adil bagi masyarakat dan kembali ke filosofi kebijakan HTR yang ada dalam PP No. 6 Tahun 2007 jo PP No. 3 Tahun 2008.

    Selain HTR, yang sifatnya usaha untuk membangun kewirausahaan, Kementerian Kehutanan juga mengembangkan program pemberdayaan masyarakat setempat melalui HKm, tahun 2010-2014 seluas 2 juta ha, dan HD seluas 500 ribu ha di kawasan hutan lindung dan hutan produksi, agar manfaat untuk kesejahteraan masyarakat tercapai dengan tetap menjaga fungsi hutan lindung. Adapun pelaksanaan HKM di Provinsi Lampung sampai dengan Tahun 2011 seluas 36.393 Ha meliputi 4 kabupaten, yaitu: Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Barat, dan Kabupaten Lampung Utara.

    Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi, ditempuh dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam segala kegiatan konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya, melalui program Desa Konservasi. Program Desa Konservasi merupakan implementasi dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, antara lain berupa: peningkatan kapasitas, bantuan ekonomi, penguatan kelembagaan, konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, atau bantuan bibit pohon. Selain program-program yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan, Kementerian Kehutanan juga mendorong program Hutan Rakyat (Hutan Milik) bermitra dengan industri perkayuan yang ada di sekitarnya. Model ini sukses, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan pola ini kebutuhan bahan baku industri kayu dari hutan alam terus dikurangi dan petani meningkat kesejahteraannya.

    V. Penutup
    Optimalisasi sektor kehutanan untuk mendukung ketahanan pangan dilakukan melalui strategi pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Kebijakan sektor kehutanan dilakukan untuk mengoptimalkan pembangunan kehutanan dalam mengantisipasi isu strategis penyediaan pangan yang terjadi, antara lain : penyediaan lahan dan pengelolaan keragaman hayati sebagai sumberdaya genetik pangan, dan peningkatan peran para pihak dalam kontribusi penyediaan pangan. Strategi yang ditempuh untuk menjaga kelangsungan fungsi hutan sebagai penyangga sistem kehidupan dilakukan dalam rangka menjamin hutan agar tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai pengatur tata air, pengatur iklim mikro, dan menjaga keanekaragaman hayati. Pencapaian stategi tersebut dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mampu meningkatkan kontribusi sektor kehutanan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.